-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

MENGAPA SESEORANG MENJADI GEMUK

Sunday, April 7, 2019 | April 07, 2019 WIB Last Updated 2019-09-08T02:27:06Z

Sebenarnya, ada beberapa faktor yang menyebabkan kita kelebihan berat badan atau bahkan kegemukan kegemukan disenbabkan oleh dua faktor utama yaitu makan melebihi porsi yang diperlukan oleh tubuh, penggunaan energi yang rendah atau kobinasi keduanya. Selain itu beberapa faktor lain yang menjadi penyebab kenaikan berat badan juaga akan ditinjau satu per satu dibawah ini:
Makan Melebihi Kebutuhan Tubuh
Banyak sebab mengapa seseoarang makan melebihi kebutuhan tubuh antara lain:
                              1.   Banyak makan ketika menghadapi stress atau depresi
Stress atau depresi merupakan faktor psikologis (emosional). Menurut Dr Hilde Bruch, faktor tersebut berhubungan erat dengan rass lapar dan nafsu makan. Sejumlah hormon akan disekresi sebagai tanggapan dari keadaan psikologia sehingga menjadi peningkatan metabolisme energi untuk dipecah dan digunakan untuk aktifitas fisik. Jika seseorang tidak dapat menggukan bahan bakar yang telah disediakan maka tubuh tidak punya lternatif lain sehingga menyimpannya sebagai lemak. Proses tersebut menyebabkan glukosa darah menurun sehingga menyebabkan rasa lapar pada orang – orang yang mengalamii tekanan psikologis.
Stress (rasa cemas, takut) akan muncul pada pola yang berbeda untuk setiap orang. Beberspa orang ketika menghadapi stress akan mengalihkan perhatian pad makanan, terutama makanan kesukaannya, memang sementara waktu hal tersebut dapat mengatasi kejenua, menimbulkan persaan puas dan dapat mengatasi suasana stress. Apabila keadaan ini berlanjut dan tidak terkontrol, apalagi makanan yang sering dimaksn kaya akan kalori, tinggi lemak, dan tinggi karbohidrat, maka secara otomatis akan timbul suatu kebiasaan makan yang tidak baik karena dapat menyebabkan kenaikan berat badan atau bahkan kegemukan (obesitas).
                              2.    Perilaku yang salah
Kebiasaan – kebiasaan makan dalam keluarga suka ditiru oleh anak-anak, misalnya makan yang berlebih, frekuensi makan yang sering, kelbihan snack, dan makan diluar waktu makan. Anak- anak uyang menderita obesitas karena sering mengkonsumsi makanan dibandingkan anak yang tidak menderita obesitas.
Cara memilih makanan yang salah hal ini terjadi disebabkan semakin banyaknya dijual makanan cepat saji yang mengandung kalori tinggi (padat energi) seperi pizza, humberger, fried chiken, spageti, es krim, kue tart, dll.
Kadang – kadang konsumen juga lebih melihat prestise dari suatu makanan tanpa melihat kandungan zat gizinya, misalnya daging berlemak, jenis keju tinggi lemak, susu krim. Dll.
Menggoreng dan memasak dengan santan. Minyak dan santan adalah lemak yang mengandung ikatan jenuh sehingga sukar untuk dipecah menjadi bahan bakar. Selain itu makan yang digoreng dan diberi santan biasanya terdiri dari bahan- bahan makanan tinggi kolestrol misalnya emapl goreng, gulai, dan rendang, karena itu biaskanlah lebih sering memask dengan cara memepes, mengetim, membakar dan memanggang.
                              3.    Kebiasaan ngemil.
Ngemil berarti makan diluar waktu makan. Bila tidak dibatasi, kalori yang masuk akan sangat tinggi kerana biasabya makanan yang dipakai ngemil berupa nyamikam yang biasanya digoreng atau terdiri dari kue- kue yang manis dan gurih. Untuk menghindari hal tersebut, hilangkan kebiasaan makan di mana dan kapan saja. Usahakan makan pada jam- jam tertentu secara teratur. Sehingga akan mengurangi keinginan untuk makan diluar jam- jam tersebut.
                              4.    Melupakan makan pagi
Karena berburu- buru dan dianggap tidak praktis, orang biasanya akan melewatkan makan paginya. Tidak disadari bahwa hal tersebut mengakibatkannya cepat lapar. Makan pagi sangat dipelukan untuk mendapatkan energy saat akan bekerja, setelah kurang lebih 12 jam perut dalam keadaan kosong.   


Keyword :faktor resiko obesitas, resiko bila obesitas berlanjut, faktor risiko obesitas pada anak, resiko bayi obesitas, resiko penderita obesitas

×
Berita Terbaru Update